Selasa, 30 Oktober 2012

Thoughts of Life, Wealth, Success & Happiness

A very meaningful speech by Late Dr Richard Teo

"There is nothing wrong with being rich or wealthy.
I think it’s absolutely alright, cos God has blessed.
So many people are blessed with good wealth, but the trouble is I think a lot of us can’t handle it.
The more we have, the more we want.
I’ve gone through it, the deeper the hole we dig, the more we get sucked into it, so much so that we worship wealth and lose focus.
Instead of worshiping God, we worship wealth. It’s just a human instinct. It’s just so difficult to get out of it."

Jumaat, 26 Oktober 2012

Salam Aidiladha..

Miles away, oceans apart
never in my sight but always in my heart
the love is always there it will never die
only growing stronger a tears rose down my eye

I am thiking all the time
when the day will come
standing there before you
accept this Hajj of mine

standing in ihram, making my tawaf
drinking blessings from your well
the challenges that I have suffered
and might were rekindles my imaan

O Allah! I am waiting for the call
praying for the day when I can be near the Kabah wall
O Allah! I am waiting for the call
praying for the day when I can be near the Kabah wall

I feel alive and I feel strong
I can feel Islam running in my Veins
to see my muslim brothers, their purpose all the same
greeting one another, exalting one True Name
I truly hope one day that everyone's a Muslim.
that they remember you in everything they say

standing in ihram making my tawaf, making my tawaf
drinking blessings from your well
the challenges that I have suffered
and might were rekindles my imaan

O Allah! I am waiting for the call
praying for the day when I can be near the Kabah wall
O Allah! I am waiting for the call
praying for the day when I can be near the Kabah wall

Miles away


Labbaik Allah humma labbaik, Labbaik la sharika laka labbaik, Innal hamda, Wan-ni'mata Laka walmulk Laa sharika lak..
Hambamu dtg myambut panggilanMu Ya Allah, HambaMu datang menyahut panggilanMu Sesungguhnya segala puji-pujoan dan nikmat dan kerajaan adalah kepunyaanMu, Yang tiada sekutu bagiMu ..
O my Lord, here I am at Your service, here I am. There is no partner with You, here I am. Truly the praise and the provisions are Yours, and so is the dominion and sovereignty. There is no partner with You..

Ahad, 21 Oktober 2012

Qasidah Istighfar

Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat,
Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa,
Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna,
Berikanlah aku amalan yang dimakbulkan,
Kurniakan kepadaku rezeki yg meluas,
Terimalah taubat kami dgn taubat nasuha..

Rabu, 17 Oktober 2012

Tentang kematian

Ali Imran, 3-185:
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan pembalasan yang sempurna. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan di dunia hanya lah kesenangan yang memperdayakan.

Ali Imran, 3-145:
Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa mengkehendaki pahala dunia, Kami berikan kepadanya pahala dunia itu; dan barangsiapa mengkehendaki pahala akhirat, kami berikan kepadanya pahala akhirat itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Ali Imran, 3-156:
Wahai orang-orang yang beriman, jangan lah kamu seperti orang-orang kafir yang menyatakan kepada saudara-saudaranya: "Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati atau terbunuh". Dengan yang demikian, Allah hendak menimbulkan penyesalan di hati mereka. Allah-lah yang menghidup dan mematikan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Ali Imran, 3-154:
Sesungguhnya, segala urusan itu di tangan Allah. Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Allah berbuat demikian untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada di dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.

An-Nisaa, 4-29: 
 ... Dan jangan lah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.

In rememberance..


LMP: 25 August 2012
doM: 6 October 2012


Something interesting about Gravida 5:

1. Hamza turned 2 on June and later we decided is the best time to add a new member of the family. Been trying from June, and alhamdulillah, I saw the double line in August.

2. Amazingly, I wasnt very sure to do the upt at the first place. Period was late but since I've been wasting a lot of the upt strips the previous month, I decided to wait until day 3, and after d3, tested and its positive. Alhamdulillah..

3. One of my big intention to be in the state of pregnancy is to qhatam the Quran. Alhamdulillah, within that period, I managed to finish chapter 2 to 4. Just about time to masuk chapter 'Hidangan dari Langit', and it seems, tak ada rezeki...

4. On 6sept, I bought a new lens for our camera. Been drooling for years, and I think its just a great time to buy it. I justified buying the lens to capture lotsa our newborn pictures later. The shipment was done on 7sept, according to the seller's receipt however until 1oct, the item failed to arrive. Thus, I made an isthiqarah, asking Allah to give me a sign, either I will get the lens or it will lost somewhere in the transaction. On the night of 6oct, I bleed. I guessed I have received the sign. And yes till today, I dont received any parcel containing any particular lens. Alhamdullilah to Paypal Customer Protection, I've got refund for the mia item.

5. The pregnancy this time around was tiring, so much, I bearly open my eyes once the sun gone. Thus, most night, I went to bed right after Isyak. But no throw up, a bit loya, and I still breastfeeding Hamza like usual. No pain or whatsoever during bf.

6. I went for our first ultrasound on the 1oct. Just to confirm I will see something, not recurrence molar or whatsoever, plus Mat is going for outstation for 10days, I guessed its better for him to also know my state of health. Alhamdullillah, I was confirm pregnant, 5weeks and 2 days and the most interesting part is we saw the sacs. Yes, sacs, not one but two. Same size and as accordance to the age (5w2d). I was expecting to having a twins, if both sacs survived through out the 40weeks of pregnancy period. No heartbeat yet, as it is too early to detect. I was so happy, masya Allah. That was one of the best moment in life :) I was scheduled to see the Doc again after 2 weeks to check for baby/ies heartbeat. Menariknya lagi, baby edd was on 2 jun 2013. That would be our 7th anniversary :)

7. Mat went for outstation that night, so it just me and the kids at home. Both kids are ok. To kill some time, we went jalan-jalan and dine out, from Thursday to Saturday. On Saturday night, 6oct, at 10pm, as I was about to go to bed, I bleed. Not spotting but bleed. Like having menses. Since both kids already sleep, I decided to go to the hospital in the next morning. Thats was the longest night ever.

8. We went to An-Nur straightaway. Bad decision, Doctor on-call was an orthopedic, thus knowing less about OnG. After procedures, I decided to seek for second opinion. We moved to Az-Zahra. Alhamdulillah, they got OnG doctor on call. She scanned and it seems only one sac left. But the size was small unlike the age (6w). And she said I might having a natural miscarriage. She wanted to keep me in ward, but I insisted to go home. I was more worried with the kids since Mat is not around. They took some blood for beta-hcg test, to confirm that I am not having molar, and refer me to the Specialist, on the next day appointment.

9. Monday, going back to the hospital, and was confirmed that both sacs were no longer there. I kept on bleed like having menses and I was pretty sure both sacs were out as I did see some unusual size/shape of discharged. The specialist described my case as having a blighted pregnancy.

10. As for me, 15% was a bit sad with this whole thing BUT 85% was sooo relieved that, Alhamdulillah, it is not molar and with the fact that I did not see any heartbeat, really comfort me. Life goes on as usual.


"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya" Ar-Rad, 13:8.

Indeed, Allah knows best! :)

Selasa, 16 Oktober 2012

Membuat keputusan

I received an email. 'Pembaca' yang bertanya kepada saya, how do I make that decision - to quit working - with the goverment - and become a housewife.

Tak reti macamana nak cerita dengan bahasa mudah. So I wrote this karangan. A serious karangan paper Bahasa Melayu level SPM. Hehee..


Membuat Keputusan

Dalam dunia ini, kita tidak akan lari dari untuk tidak membuat sebarang keputusan. Setiap perkara yang dilakukan biasanya akan terbit pelbagai pilihan yang menghendaki kita untuk memilih. Seperti mahu bekerja atau menonton tv dan bersenang lenang. Mahu keluar atau diam sahaja di rumah. Mahu membeli ini atau itu. Itu adalah antara contoh mudah dalam memilih dan membuat keputusan. Dan kita biasanya cenderung untuk memilih mana yang terbaik dengan kita pada situasi tersebut.

Dan dari membuat keputusan perkara kecil, kita akan diuji untuk membuat keputusan perkara yang besar. Misalannya, setelah tamat UPSR, ada antara kita yang diuji dengan pilihan samada untuk kekal di sekolah lama atau ke sekolah berasrama penuh, setelah tamat PMR pula kita sekali lagi diberi pilihan untuk melanjutkan pelajaran ke bidang Sains atau Sastera dan terakhirnya yang terbesar adalah setelah tamat peringkat menengah tertinggi, kita diberi pilihan untuk memilih pengajian yang mana yang akan tertulis pada sijil peringkat paling tinggi yang akan kita jaja untuk mendapatkan pekerjaan yang akan menjadi sumber pendapatan kita nanti.

Di dalam kekalutan kita untuk memilih, seringkali kita terlupa bahawa sebagai umat Islam, sebenarnya rezeki kita telah pun tertulis sejak azali lagi. Kita seringkali takut keputusan yang kita buat itu salah, sekaligus menggelapkan masa hadapan.

Ayat 6 surah Hud:
"Dan tidak satupun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediaman dan penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). "

Jadinya, apa yang paling utama dalam memilih dan membuat keputusan adalah adakah jalan tersebut akan menghampirkan kita kepada Yang Maha Esa atau menjauhkan kita dengan Nya.

Saya mempunyai kelulusan dalam bidang Mikrobiologi. Alhamdullillah, diberi olehNya untuk mudah mendapatkan pekerjaan. Tidak pernah sekali saya menganggur setelah tamat pengajian. Kesempatan itu juga menyebabkan saya menjadi agak oppurtunist. Saya kerja, bosan, berhenti dan bekerja di tempat lain yang mana  menawarkan lebih gaji atau kemudahan. Sepanjang 2 tahun tamat pengajian, saya melompat kerja di lebih dari 3 syarikat yang mana akhirnya saya settle-down sebagai seorang Mikrobiologist di sektor awam.

Saya kerja, berkahwin, punya anak dan akhirnya saya sekali lagi diuji dengan untuk membuat pilihan: meneruskan kerja atau berhenti.

Pilihan kali ini bukanlah disebabkan tawaran gaji yang lebih lumayan dari kompeni lain. Tetapi lebih kepada apa yang saya mahu sebenarnya. Hakikat saya berpindah kerja dahulu juga begitu. Apa sebenarnya saya mahu: menjadi pensyarah (2 kompeni terawal yang saya berkhidmat ada lah kolej swasta sebagai pensyarah) atau berkhidmat sebagai Mikrobiologist (saya pernah berkhidmat di makmal swasta dan di kilang ayam sebelum berakhir di jabatan kerajaan).

Saya kaji semula keputusan yang lepas. Kenapa sebenarnya saya bertukar 5 tempat kerja dalam tempoh 3 tahun dan apa sebenarnya yang saya mahu. Kali ini keputusan yang saya buat dibantu oleh suami. Istikharah, katanya. Biar Allah swt yang pilih kan untuk kita kerana itu yang terbaik.

"Ya Allah, aku mohon petunjuk dariMu dengan ilmuMu dan aku memohon ketetapan dan kepastian dengan kekuasaanMu. Engkaulah yang berkuasa dan hambaMu  ini tidak punya kuasa. Engkau mengetahui sedang hambaMu ini tidak. Ya Allah, jika perkara ini adalah yang terbaik untukku, agamaku, kehidupanku dan akibat perbuatan ku ini, dan ia juga terbaik untuk ku di masa terdekat juga masa hadapan, maka tetapkanlah ia untukku dan permudahkanlah. Jika ia tidak baik padaku dan menjauhkan aku denganMu, Ya Allah, maka jauhkanlah ia denganku. Tetapkanlah kebaikan di mana kebaikan itu berada dan redhakanlah hatiku dengannya."

Alhamdulillah, saya peroleh petunjuk itu, berjaya membuat keputusan yang pada saya terbaik untuk semua. Saya lepaskan kerjaya saya yang tidak dinafikan terjamin masa tua (di mana saya telah berikrar janji untuk menerima wang pencen setelah cukup tempoh/tamat bekerja kelak), untuk menjadi seorang isteri dan ibu. Alhamdulillah, sepanjang 2 tahun saya tidak berpendapatan tetap, saya gembira. Hidup sangat terasa bermanfaat, jika dibandingkan dengan masa bekerja dahulu.

Jadi di sini, pertama sekali membuat pilihan biarlah, ia mendekatkan kita dengan Ilahi. Sebelum mahu bertukar kerja, melanjutkan pelajaran, berhenti kerja dan sebagainya, berhenti dan berfikir, sejauh mana keputusan yang bakal diambil akan mendekatkan kita dengan Ilahi. Adakah dengan menerima surat kenaikan pangkat akan memberi kita lebih ruang untuk beribadat atau tidak? Adakah dengan bertukar tempat kerja akan memberikan kita lebih masa untuk solat berjemaah? Adakah dengan berhenti kerja membolehkan kita beribadat dengan lebih banyak atau sebaliknya?

Dan apabila membuat keputusan, kita seringkali dipengaruhi dengan keadaan sekeliling: pendapat orang luar juga keadaan ekonomi semasa. Sungguh perkara seperti ini perlu diberikan perhatian. Jangan membuat keputusan secara melulu. Timbang tara semua aspek.  Biar kita yang mengawal keadaan dan jangan terlalu mengikut nafsu. Saya ada terbaca tentang ibu yang bekerja diberi peluang untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat tertinggi di luar negara, lantas beliau pergi meninggal suami dan anak-anak yang masih kecil untuk mengejar cita-citanya itu. Mungkin saya tidak faham kerana tidak berada di dalam situasi beliau, tetapi saya menjadi curious, ingin tahu, adakah course yang ingin dipelajari tidak ditawarkan di peringkat tempatan, adakah sekeping sijil itu begitu bermakna sehingga sanggup meninggalkan tanggungjawab sebagai isteri dan ibu, adakah jika menolak tawaran tersebut akan menjejaskan peranan beliau sebagai ibu, isteri dan wanita Islam.

Perkara kedua dalam membuat keputusan adalah kita perlu jelas dengan tanggungjawab semasa kita. Tanggungjawab sebagai seorang umat, suami, isteri, anak dan keseluruhannya. Tanggungjawab itu penting kerana perkara itulah yang akan ditanya di sana kelak.

Ok, rasanya cukup dulu untuk kali ini. InsyaAllah di kelapangan lain saya akan tulis panjang lebar lagi how I manage my time and my role sebagai khalifah, isteri, emak, bos merangkup kuli NeezaNeedles.  :)