Monday, January 16, 2017

Geng-geng lama..

We have a very good discussion after memorisation class today. About tongue and how to keep it away from doing sinful act - avoiding gibah, hurtful sentences, etc. This then reminded me about my old friends, kawan-kawan zaman kejahilan dulu kala.

One thing bila dah tua ni, banyak betul jemputan utk reunion- schoolmate, uni, faculty, ex-office.
Jemputan berjumpa, juga jemputan group WA.

I am very sorry for not responding or anything, kebanyakkannya memang aku reject. Maaf, bukan dah tak nak kawan, cuma aku malas nk bersosial. I noticed one thing, we only have a similarity at one point of our life, so perkara yang mampu dikongsi asyik la benda lama kisah sama yang lemau - old pictures, old jokes, old stories - which as for me I've grew up from that "old moment". I've been rebirth to a new person, and I don't like to be reminded to who I used to be. I don't bother to know about your current life too. I am happy if you're happy, takde nya nk cemburu atau mendengki, cuma aku tak minat nak dengar.

Jauh niat nk menyombong, my life is very plain, and am being reserve as I want to keep my heart pure - less talking about dunya, more focus on akhirah. And apart of that, I now have my current new circle of friends, which we talk about what we focusing more now, and Alhamdullillah, I think they're more than enough for now.

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayat petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu (balasan) apa yang kamu telah lakukan. Al-Maidah, ayah 105. 

Sekian. NotaNeeza kali ini. Assalamualaikum.

Monday, January 9, 2017

Pengemis

atau peminta sedekah.

Jangan dicela golongan ini. Kerana kita punya tanggungjawab ke atas mereka.

Ada yang berkata:
"Badan sihat, tapi meminta-minta. Pergila bekerja."
"Diorang tu minta sedekah tapi lepas tu dengan duit sedekah pergi makan restoran mewah."
"Sindiket semua tu. Ada dalang di sebaliknya."

Pertama dan utama, dalam hati kita, kena: Bersangka-baik. Tak kira siapa mereka di sebaliknya, anggaplah kehadiran mereka itu sebagai hadiah dari Allah swt, untuk memberatkan timbangan amal kita. Lagipun memang sudah menjadi tanggungjawab kita untuk membantu golongan yang memerlukan.

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (Adz Dzariyaat : 19)

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (Ar Ruum : 38)


Kadang-kadang kita pun memang sengkek, tengah kering tapi beri la minima RM1. Sebab Allah swt ada janji, dia akan pulangkan balik pemberian kita itu, berlipat kali ganda.

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. (At Taghaabun : 17)

Kedua, jika betul-betul tengah kering, jangan sombong atau herdik mereka. The best thing to do is to smile, and leave, and pray for them so that Allah give rizk to them and pray for ourself too, so that He give us rizk too so we able help the needy.

**

NotaNeeza bersambung lagi di lain masa, insyaAllah. Assalamualaikum.

Sunday, January 8, 2017

(Puisi) Tahajud

Detik lima pagi
Kedinginan yang nyaman
Di ruang perbaringan empuk
Mabuk dalam kantuk..

Istighfar perlahan dalam hati
Mencari kekuatan
Melawan kehendak nafsi
Melawan godaan syaitan

Lembab
Terasa masa bagai terhenti
Ada dialog dalam hati
"Bangun, kamu punyai tanggungjawab..
Ini waktu mustajab"

Lena atau jaga
Pilihan ada di tangan
Jika kamu mahu
Allah swt akan beri
Jika tidak, tidak lah Dia rugi
Kerana hakikatnya
Siapalah kita selain hamba.

~NeezaZaini
8Jan17

Friday, January 6, 2017

Perjalananku Bersama Al-Quran pt2. masalah makraj.

Bismillah.

Alhamdullillah. Perjalananku bersama Al-Quran bersambung lagi..

Masih dengan TMEAG untuk kelas recitation, but this year I enrolled myself to the memorisation class too. So, I have successfully keep myself busy with the Quran with classes from Monday til Saturday, with classes: memorisation alternate each day with recitation. Alhamdullillah.

For my recitation class, Alhamdulillah, I've been promoted to second higher level that is the brown class (the academy divided the students depending on their ability to recite, with black being the best: black, brown, red, purple, pink, yellow and white). Although, I am so happy to be in the new class, but telling the truth, peer pressure sebenarnya masuk brown ni. Others are reciting well with minor correction but me, I am still struggling to pronounce some letters. In other words, my makraj is poor. And like a domino effect, when you have a poor makraj, your recitation will look lousy. Oh! 😞
But I am so lucky to have a very sabr teacher. She will guide me, and teach me how to pronounce the letters correctly and even if I remake the same mistake, she never show disinterested towards me. Alhamdullillah, may Allah bless her and give rewards for her patience.

As for memorisation class, we are now reevaluate back what I've memorised and to my surprise, I found that I've make quite number of mistakes in my recitation. Even the short surah like Al-Ikhlas, there's a minor mistake, the ha letter for the word ahad is not strongly pronounce, thus it looks like the round-ha. And as I stated earlier my makraj is my biggest obstacle. , may Allah forgive and continue to guide me.

Dalam kepala ni dok terfikir, susah jugak nk recite macam sheikh-sheikh dalam kaset tu. Is it because I am not Arab? The academy have this rule not to recite with melody, meaning plain-stiff recitation, and I found it hard to get rid of my melody, mungkin sebab dah terbiasa, and bila dengar sheikh yg recite pun they have they own melody, lenggok bacaan dia. Like even when I speak, I have my own lenggok. The teacher kept on saying, read naturally, like you're speaking, I tried but it doesn't sound good. This make me think, maybe I have a problem with my mouth, teeth structure not well-arrange or maybe my tongue is larger or longer than it should be. Hahaa.. merepek-repek dalam kepala. Then teringat pulak dengan pengalaman haji, duduk dengan jemaah India/Sri Lanka (I like to hanging around with jemaah from other than Malaysia/Indonesia - kurang skit berbual, so i can focus on the Quran or dzikr). Bacaan diorang pun agak pelik jugak, but then again, if we want to be the best, compare ourself with those better than us and not the other way round.

Berbalik kepada my main problem, that is the makraj, I hope and pray that Allah make ease for me.
I will update my story again in the near future. Samada I still have the problem or it has been solve.
InsyaAllah, Yakin boleh. Sebab Allah janji Quran ni mudah:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Chow for now. Ketemu di notaNeeza yg lain pula. Assalamualaikum.


Tuesday, January 3, 2017

Kebahagian itu Kesyukuran

'If we think happiness is getting everything that we want, then we'll end up having issues after we get them' - Dr Fadila Grine.

Suatu masa dulu, aku selalu ada perasaan yang berbaur 'mak ayah tak sayang aku, I am the black sheep of the family, yada-yada'. Teringat akan perkara-perkara yang aku tak dapat- nk beli pensil kaler Luna 24, mak tak kasi; nk pergi rombongan sekolah ke Cameron Highland, ayah tak kasi; kadang tu nak hangout with friends hujung minggu pun mak ayah tak benarkan. Minda aku terfokus kepada perkara kecil tersebut sehingga lupa akan perkara yang lebih besar - how my parents send me to school, give education, provide good shelter, food on the table etc. Kita mungkin beranggapan, rumah, pakaian, makanan is their tanggungjawab but tanggungjawab itu beranugerah besar, sebab some parents in other parts of the world, cant afford to prepare dinner on the table every night, let alone sending their kids to school.

Alhamdulillah, as I grow old and wiser, I can't thank Allah enough for my parents. Seriously, mereka yang terbaik (untuk aku), I learnt a lot from them, kebaikan mereka, dicontohi dan kesilapan mereka kita perbaiki dalam kita membangunkan organisasi kekeluargaan kita sendiri.

Kebahagian itu adalah kesyukuran. Jika kita asyik melihat kepada sudut sisi- kebahagian itu memperoleh apa yang kita hajati, sampai bila pun hati takan bahagia. Nafsu umpama meminum air lautan kala dahaga, semakin banyak di minum, semakin dahaga dan tidak memuaskan, malah membahayakan. Lihat lah apa yang ada di genggaman, mata yang boleh melihat, kaki yang boleh berjalan, dan badan yang sihat. Bersyukur dengan apa yang ada dan ingat janji Allah:

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Sifat syukur sama seperti sabar, perlu ditanam dari awal. Manusia yang tidak sabar akan menjadi dewasa yang baran dan pendengus, manakala, manusia yang kurang bersyukur akan menjadi manusia yang tidak bahagia. Dan keseluruh hidupnya akan menjadi satu bebanan yang tidak berkesudahan. Kita sering lihat atau terbaca akan kisah, orang tua yang ramai anak, dua tiga di depan mata, namun sang anak yang tidak di mata itu lah yang acapkali nama nya berdzikir di bibir. Sehingga rasa jengkel di pendengaran anak yang lain. Memang, dia rindu, tetapi jika dia merupakan seorang yang bersyukur, anak yang depan mata sudah sangat besar ertinya.

Bagaimana mahu menjadi manusia bersyukur?
Pertama sekali bersyukur lah kerana menjadi hamba Nya. Kenapa kita di pilih menjadi Islam? Kenapa kita di sini? Apa dunya ni sebenarnya?. Pelajari lah agama Allah nan indah ini. Baca Quran, kenali Rasullullah saw, para sahabat dan salafiyah. Solat jangan diambil ringan. Bersolat itu tanda kita bersyukur atas segala nikmat yang Allah beri- Memberi kita nilai kehambaan betapa kita tidak mampu melakukannya sendiri tanpa pertolongan Allah. Dan apabila telah lembut dan sedar hati ini akan ketidakupayaan diri, maka secara automatis, kita mudah untuk merasa redho dengan apa yang kita ada dan tiada, apa yang kita dapat dan tidak dapat.

Kesyukuran buahnya bahagia. Ada atau tiada, dapat atau tidak dapat, in any circumstances, bersyukurlah. Hidup ini hanya pentas ujian, mereka yang berjaya bukanlah mereka yang berpangkat besar, kaya, cantik atau banyak anak. Tetapi mereka yang berjaya adalah mereka yang bertaqwa, dan kesudahan nya Syurga.

Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi manusia yang bersyukur berterusan. Ameen.

Akhir kalam,  (copy paste from other blog):

Nasehat Agar Selalu Mensyukuri Nikmat Allah
‘Umar bin Abdul Aziz berkata, “Ikatlah nikmat Allah dengan selalu bersyukur kepada-Nya.”
Hasan Al-Bashri berkata, “Bila engkau sering menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan padamu, itu merupakan pertanda adanya rasa syukur dalam hatimu.”
Abu Al-Mughirah berkata, “Setiap saat aku selalu tenggelam dalam samudera nikmat Allah Yang Maha Luas sehingga aku tak tahu lagi bagaimana cara mensyukurinya.”
Abu Hazim berakata, “Salah satu cara bersyukur yang bisa kau lakukan adalah, bila kau melihat sesuatu yang baik, ceritakanlah. Tapi, bila kau menyaksikan sesuatu yang buruk, diamlah dan simpanlah ia hanya untuk dirimu.”
Sesungguhnya banyak nasehat yang telah terucap, namun bagi hamba Allah yang selalu rindu pada Tuhan-nya satu nasehat pun sudah cukup baginya untuk terdorong selalu bersyukur kepada Allah. Maka bersyukurlah, niscaya nikmat itu akan ditambah Allah untukmu. Wallahu a’lam.
“Waspadalah bila kau lihat Tuhan-mu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu, sementara kau terus menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.” (Mutiara Nahjul Balaghah, hal. 122)

Sekian notaneeza hari ini. Jumpa lagi insyaAllah. Assalamualaikum.

Sunday, January 1, 2017

Cinta kerana Allah

Bismillah..

Selamat tahun baru 2017.
Sebenarnya aku bnyk menulis. Tetapi tidak di alammaya. I enjoy seeing my handwriting, scribed in my note book. Semalam tika berakhir 2016, I look back what I've written and flipped and smiled. Dan entah macamana rasa tahun ni I want to write back in the net. Sayang jugak hasil tulisan tu takut hilang begitu sahaja. Mebe from time to time I will copy back what I wrote in the book to this blog. Buat bacaan sukasuki. Simpan untuk anak cucu.

Ok, pagi yg indah ini, aku bangun dan terbaca artikel menarik dari Bro Hilal Asyraf di blogFB nya Langit Ilahi. Artikel seperti di bawah:


Teringat akan diri sendiri pada zaman jahiliah (sebelum hijrah ramadhan 2003- Alhamdulillah). 

Zaman belajar dulu I do hv a lot male friends (kawan ya, bukan kekasih). And I have this one friend which I really like his personality. He likes to read. Kalau bersembang dengan dia, memang selalu pun berbual hal buku. So one day, we went out to MPH midvalley. Lepak kedai buku, and bila dh nk balik tu, I excused myself nk pergi solat asar dulu. So we went to the surau. I did my solat, and when I came out, he is there waiting for me at the same spot where I left him, reading a book, the one that he just bought. So I look at him and wondered, 'nampak kering je, mamat ni tak solat ke'. Supaya tidak berteki teki, I asked him, dh solat ke? He hesitated, but then replied, 'Aku masuk surau tadi tapi orang ramai. Aku takut kasut aku hilang'. And I was like what??! Hilang seluruh point penting. Huhuu.. 
Just like an equation that I came across in the net: To find a perfect husband- Give a 100 for appearance, personality, etc. and also 100 for Solah. If the solah is zero, if you get a million from everything but when you times with the 'zero' solah the grand total will always be ZERO.

So, adik-adik, anak-anak, nak cari calon suami carilah yang beragama. Solat yang paling penting. 5 waktu mesti perfect. Letihla jika setiap pagi we have to yell at him to ask him to do Fajr prayer. He should be our imam. Not the other way round. And how to get such man, is by doa. Thats is what I did, masa bujang dulu, each time after prayer, I will said, 'Ya Allah, mohon lah aku suami yang beriman yang boleh membimbing aku ke jalan Mu. Ihdinas sirotal mustakeem. Jalan yang membawa aku ke syurga dan bukan yang sebaliknya'. Doa sungguh-sungguh, Allah akan makbulkan. Aku add jugak nk suami yang tak merokok, tak panas baran, bukan kaki pukul etc.. dan Alhamdullillah, Allah makbulkan. Mencari calon suami perkara serius, kita nk bersama bukan sekadar di dunya sahaja, tapi di syurga juga. Seronok itu biar berkekalan selamanya. 

[Alhamdulillah Allah atas nikmat bersuamikan Mat. I am so grateful to hv him as my husband and as a father to my kids. May our love last forever and reunite in Jannah Firdaws. Ameen.]

Ok, chow for now. NotaNeeza bersambung kemudian. Assalamualaikum. 
(erm, letih jugak menaip, kalo tulis lagi laju, sbb idea dlm kepala ni mcm mencurah rasa berterabur tangan nk tekan keyboard.. hehee)